Aku mulai membuka mataku, hati nuraniku berkata bahwa aku harus bangun. Dan tak lama setelah aku menyadari bahwa aku masih disini, ditempat yang sama seperti sebelum aku tertidur... Aku menarik nafas panjang dan mencoba mencerna dimana aku masih berada sekarang.
"Waktu tinggal 5 menit lagi, yang sudah selesai silahkan dikumpulkan!" Tegas bu Citra
Oh tidak! Aku menjerit dalam hati, apa apaan ini! Masih ada 10 soal lagi dan aku tertidur saat ujian. Murid macam apa aku ini!
Otakku mencoba terus berfikir, seperti ada dorongan untuk mengakhiri semua pejuangan ini, tapi... Tidak! Ini belum berakhir, aku harus terus mencoba.
"Yes! Aku dapat! Tapi... Masih 9 soal lagi dan apa yang harus aku lakukan sekarang! Oh Tuhan aku benar benar panik! Aghhhh.. Aku benci saat saat seperti ini.
Pada akhirnya bel pun berbunyi. Dan itu tandanya semua drama matematika pun berakhir, perjuanganku terhenti sampai disini.
Aku berjalan keluar ruangan dengan wajah lesu seperti orang yang tak mempunyai semangat hidup. Entahlah rasanya tidak sanggup membayangkan bagaimana hasilnya nanti. Aku terus menggerutu dalam hati. Tetapi cepat-cepat aku buang perasaan gelisah tak menentu itu, karena sekarang adalah hari terakhir ujian semester! Aaaa! Rasanya ingin berteriak lagi dan lagi. Setidaknya aku merasa tidak begitu kecewa dengan hari ini, dan senyumku mulai mengembang.
"Ara!!" Sebuah suara dari kejauhan memanggilku
Dengan cepat aku menoleh mencari dimana asal suara itu. Dan ternyata dia lagi, reza sang pengganggu.
"Ngapain manggil gue?" Jawabku
"Kok gitu banget sih jawabnya, kan gue baik baik manggilnya" aku tidak menjawab dan memilih untuk diam. Jengkel bercampur malas setengah mati kalau reza datang tanpa sebab seperti ini. "Gue pengen ngajak lo pergi nih, gue tau lo pasti gak ada yang ngajak jalan kan? Yaa dari pada dirumah, mending gue traktir"
"Hah? Gue pergi sama lu? Engga ah, gue udah janji sama orang lain"
"Siapa? Sama bunda lu?" Tanya reza meledek.
"Bukan"
"Terus siapa dong?"
"Sama pacar gue! Lo jangan ganggu ganggu deh ya, gue tuh udah punya pacar! Hari ini gue ada janji sama dia"
Reza tertawa, dan suara tertawanya seperti menusuk hati kecil ini.
" eh ini tuh sama sekali bukan urusan lo" tegasku lagi.
" kenapa sih lo masih menganggap dia pacar lu? Kan dia udah..."
" cukup reza! Gue gak suka lu ngomong gitu! Gue akan tetap dan masih akan terus sama rizky sampai kapan pun. Dan lo sama sekali gak ada hak buat ganggu itu!"
Aku pergi meninggalkan reza dengan muka penuh kesal. Meninggalkan manusia itu setidaknya membuatku sedikit tenang. Dan dari kejauhan aku mendengar reza berkata...
"Dasar cewek gila!"
###
"Kita pulang atau kemana mbak?" Tanya supir ojek langganan ku.
"Kita kerumah rizky ya pak"
Dengan tanpa memprotes dan berkomen, pak oyo langsung mengiyakan permintaanku.
Tak berapa lama, aku sampai di depan rumahnya, aku memegang bunga mawar di tanganku, aku berjalan lebih dekat dengannya, rizky berdiri membisu sambil tersenyum. Sementara pak oyo dengan setia menungguku hingga kunjunganku selesai. Dan aku sekarang tepat dihadapannya.
"Hai.. Apa kabarmu?"
Tak ada balasan, ia membisu.
"Rizky, tau gak? Hari ini aku sudah menyelesaikan ulanganku. Yaa walaupun sulit tapi semoga aja jawabanku beruntung" aku tertawa kecil "kenapa diam? Lalu bagaimana hari harimu ki?" Aku menunduk dan tak tertahan lagi airmataku yang sedari tadi ingin meluncur deras di pelupuk mataku.
Hari ini aku akan manghabiskan waktu ku hanya denganmu rizky. Aku gak akan ninggalin kamu disini sendirian. Kamu inget gak janji kita berdua 2tahun yang lalu? Kamu bilang kan pokoknya setelah hari terakhir ulangan, wajib kita main bareng. Dan kali ini aku tepatin janji aku."
Aku diam untuk beberapa saat... " ohiya, aku bawa mawar ini buat kamu. Kalau dulu aku yang dikasih mawar, sekarang kmu aku kasih mawar hehe"aku tersenyum dan satu air mataku meluncur di sudut pipiku. "
"Kamu ngomong dong rizky, ngomong sesuatu. Ayo hibur aku rizky! Bukannya dulu kMu selalu buat aku ketawa sampe gak bisa berhenti? Dan kenapa kamu malah buat aku nangis sampe gabisa berhenti juga?"
Tangisku meluap dan aku berteriak sekencang kencangnya hingga hidungku tersumbat.
"Rizky maafkan aku.. Maaftkan aku karna telah mengingkari janji ku untuk tidak menangis di depanmu. Dan maafkan aku karna belum bisa membuatmu bahagia saat kamu masih ada disini...aku benar-benar ingin bertemu denganmu, memelukmu, berbagi sejuta cerita yang tak masuk akal denganmu. Tolong ya Tuhan kembalikan rizky yang dulu pernah membuatku bahagia.
Rizky... Apa kamu gak kangen aku? Apa kamu gak mau maianin rambut aku kayak dulu? Ayo kita naik motor ke puncak! Aku gak peduli dimarahin papa lagi. Aku mau ujan ujanan sama kamu, tapi dimana kamu sekarang?
Dan aku menangis sejadi jadinya.
"Cukup ara! Cukup buat airmata lu!"
Aku menoleh dan berkata "lo ngapain kesini sih? Gue kan udah bilang jangan ganggu gue lagi"
Reza mendekat dan memelukku. Aku mencoba melepaskannya tetapi usahaku tak berhasil.
"Ara..." Katanya lembut " apa kamu gak pernah merasa bahwa ada seseorang lain yang selalu ada disisimu?"
Aku diam, antara kesal dan sedih.
"Itu aku raa, apa kamu gak pernah sadar tentang itu? Udah berapa tahun sejak kematian rizky dan kamu masih berharap ke dia? Kamu tuh gila ara!"
Aku melepas pelukan reza dan berkata "aku gila? Iya aku memang gila! Orang gila yang masih mencintai orang yang sudah mati!" Aku segera pergi meninggalkan reza, tetapi langkahku terhenti saat reza berkata
"Dan aku mencintai orang gila itu. "
Aku terdiam sesaat dan reza pun melanjutkan kata katanya...
"Aku akan berusaha membuat mu menjadi orang yang paling bahagia dimuka bumi ini, aku berjanji"
No comments:
Post a Comment